Saintis Telah Meremajakan Sel Kulit Wanita 53 Tahun Menjadi 23 Tahun

April 11, 2022

Peremajaan sel kulit

Saintis dari Cambridge percaya bahwa mereka bisa meremajakan kulit wanita-wanita yang sudah berumur tua. Peremajaan ini memiliki tujuan akhir untuk mengembangkan perawatan penyakit yang berhubungan dengan faktor umur seperti diabetes, penyakit jantung dan gangguan pernapasan.

Teknologi ini dibangun atas dasar teknik-teknik yang digunakan saat pengkloningan domba (Dolly) yang dilakukan sudah lebih dari 25 tahun lalu.

Ketua tim, Prof Wolf Reik dari Babraham Institute di Cambridge, menjelaskan kepada BBC News bahwa dia menyakini teknik ini dapat digunakan untuk menjaga kesehatan orang-orang dalam jangka waktu yang lama seiring bertambahnya usia.

Prof Reich menekankan melalui kerjanya, dimana telah dipublikasi juga di jurnal eLife, di tahap yang paling awal. Dia mengatakan masih terdapat beberapa isu saintis yang harus diatasi sebelum dibawa ke klinik. Tetapi, demonstrasi peremajaan sel di pertama kali memungkinkan untuk sebuah langkah ke depan yang kritis.

Teknik ini berasal dari tahun 1990-an, ketika para periset di Roslin Institute di dekat Edinburgh mengembangkan sebuah metode pembelokan sel kelenjar susu dewasa yang di ambil dari seekor domba di dalam embrio, sehingga terjadi kloningan domba tersebut.

Tujuan tim Roslin bukan untuk mengkloning domba atau bahkan manusia, tetapi untuk memanfaatkan teknik ini untuk mewujudkan sel induk embrionik manusia. Mereka mengharapkan dapat menumbuhkannya ke dalam jaringan spesifik seperti jaringan otot, tulang rawan dan sel-sel saraf untuk menggantikan bagian tubuh yang rusak.

Teknik ini telah dibuat dalam bentuk yang lebih sederhana pada tahun 2006 oleh Prof Shinya Yamanaka, yang dulunya di Kyoto University. Metode baru ini yang disebut IPS melibatkan penambahan zat kimia ke sel-sel dewasa selama kurang lebih 50 hari. Hasilnya berupa terjadi perubahan genetik yang membelokkan sel-sel dewasa ke dalam sel-sel induk.

Baik teknik Dolly maupun IPS, dibutuhkan untuk menumbuhkan kembali sel-sel induk yang telah dibuat ke dalam sel-sel dan jaringan pasien. Hal ini terbukti sulit dan telah diupayakan dalam beberapa dekade, penggunaan sel-sel induk untuk mengobati penyakit saat ini masih sangat terbatas.

Tim Prof Reik menggunakan teknik IPS pada sel-sel kulit umur 53 tahun. Tetapi, mereka mempersingkat waktu penambahan zat kimia dari 50 hari menjadi 12 hari. Dr Dilgeet Gill kaget menemukan sel-sel tidak terbelok di dalam sel-sel induk embrionik, tetapi sudah justru terjadi peremajaan di dalam sel-sel kulit sehingga terlihat dan teramati seperti sel-sel kulit umur 23 tahun.

Teknik ini tidak dapat segera diaplikasikan di klinik-klinik karena metode IPS memiliki efek samping meningkatkan resiko kanker. Tetapi Prof Reik sangat yakin bahwa saat ini sudah diketahui kemungkinan untuk peremajaan sel-sel, langkah selanjutnya adalah menemukan metode alternatif yang lebih aman.

Prof Reik menyebutkan beberapa dari pengaplikasian pertama sudah bisa untuk mengembangkan obat-obatan untuk peremajaan kulit pada orang-orang yang sudah menua. Periset telah mendemonstrasikan ini dapat memungkinkan berprinsip dengan cara menunjukkan bahwa peremajaan kulit mereka berpindah lebih cepat dalam percobaan mensimulasikan luka.

Langkah selanjutnya ialah melihat apakah teknologi ini akan bekerja pada jaringan lain seperti jaringan otot, hati dan sel-sel darah.

Prof Melanie Welham, seorang kepala eksekutif Biotechnology and Biological Sciences Research Council, yang telah mendanai riset Dolly mengatakan kegunaan teknologi ini secara klinik lama terhenti yang seharusnya tidak terlalu lama.

Pertanyaan terbesarnya ialah apakah usaha periset dalam hal ini dapat membawa ke sebuah metode regenerasi tubuh secara keseluruhan, misalnya obat anti penuaan. Prof Reik mengatakan ide ini sepenuhnya tidak mengada-ngada.